Ketika "AI Fatigue" Mulai Melanda: Mengapa Kita Jenuh dengan Fitur Pintar?
Beberapa tahun lalu, menyisipkan kata "AI" pada rilis produk adalah tiket emas untuk menarik perhatian investor dan konsumen. Namun di tahun 2026, narasinya mulai berubah. Kita mencapai titik jenuh yang disebut AI Fatigue. Dari sikat gigi pintar yang melacak cara menyikat dengan kecerdasan buatan, hingga kulkas yang bisa menulis puisi tentang isi kompartemennya—konsumen mulai bertanya: Apakah kita benar-benar membutuhkan ini?
Reduksi Esensi Teknologi
Masalah terbesar dari tren ini adalah hilangnya fokus pada fungsi utama. Perusahaan teknologi berlomba-lomba meluncurkan pembaruan perangkat lunak berbasis AI yang sering kali justru menambah beban kognitif pengguna (cognitive load).
Fitur yang Dipaksakan: Menu yang terlalu dinamis hingga membingungkan navigasi.
Otomatisasi yang Merusak: AI yang mencoba menebak ketikan kita, namun justru merusak konteks kalimat.
Garis Bawah: Teknologi terbaik adalah teknologi yang tidak terlihat. Saat AI dipaksakan untuk selalu tampil di depan layar, ia berhenti menjadi solusi dan mulai menjadi gangguan.
